Jakarta, malukuone.com – Perang yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yang kini memasuki minggu kelima, telah memicu guncangan hebat pada stabilitas ekonomi dunia. Ketegangan ini menyebabkan lonjakan harga energi yang drastis, pelemahan mata uang, dan ancaman inflasi tinggi di berbagai negara.
Lonjakan Harga Energi dan Bahan Bakar
• Minyak Mentah: Harga minyak mentah Brent telah melonjak di atas US$ 115 per barel. Sebelumnya, serangan pada akhir Februari 2024 sempat memicu kenaikan harga hingga 50% dalam waktu singkat. • BBM di AS: Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, rata-rata harga bensin nasional di Amerika Serikat menembus US$ 4 per galon. • Dampak di Indonesia: Kenaikan harga minyak dunia merembet pada potensi kenaikan harga BBM non-subsidi di dalam negeri, dengan proyeksi kenaikan sekitar 5-10%.
Gangguan Jalur Perdagangan dan Logistik
• Selat Hormuz: Gangguan di jalur strategis ini menghambat pasokan energi global, mengingat sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut. • Biaya Logistik: Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melaporkan adanya peningkatan biaya pengiriman barang akibat melambungnya biaya bahan bakar dan risiko keamanan di jalur laut.
Kenaikan Harga Pangan dan Barang Konsumsi
• Pupuk dan Pangan: Kenaikan harga gas alam memicu lonjakan harga pupuk nitrogen. Hal ini diprediksi akan menaikkan harga pangan global, termasuk daging sapi dan produk susu, sepanjang tahun 2026. • Barang Manufaktur: Konflik ini juga mengganggu pasokan bahan baku industri seperti helium dan aluminium, yang penting untuk produksi chip semikonduktor serta peralatan medis. Di tingkat retail lokal, harga produk plastik bahkan telah mengalami kenaikan signifikan.
Proyeksi Ekonomi dan Mata Uang
• Pertumbuhan Global: Bank Indonesia (BI) telah merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 menjadi 3,1% akibat dampak berkelanjutan dari perang ini. • Nilai Tukar: Rupiah sempat mengalami tekanan berat, bahkan sempat anjlok ke level Rp 17.000 per dolar AS pada awal April akibat ketidakpastian pasar global.
Para pakar memperingatkan bahwa jika konflik terus berlanjut hingga pertengahan tahun, ekonomi negara-negara maju dapat mengalami stagnasi pertumbuhan, sementara negara berkembang akan menghadapi beban inflasi yang kian berat. (RM)
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *

